Skip to main content

Saya Benci Patriarki

Perempuan dan laki-laki memang diciptakan secara berbeda, dan saya tidak akan pernah memperdebatkan itu. Tapi, sama seperti ras, agama, dan etnis, perbedaan jenis kelamin lantas tidak bisa dijadikan alasan laki-laki merendahkan perempuan (begitu juga sebaliknya), bukan? Sayangnya, kita masih mengalami itu. Sayangnya, ini menjadi PR besar bagi kita semua.

Ketidaksetaraan gender yang sudah menjadi budaya di Indonesia adalah: Patriaki. Kenapa saya bilang tidak setara? Patriarki adalah perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Saya garis bawahi: mengutamakan laki-laki. Masih merasa itu bukan ketidaksetaraan?

Sejak kecil bahkan kita sudah di kotak-kotak-an berdasarkan jenis kelamin kita. Perempuan tidak boleh bermain mobil-mobilan, tidak boleh melakukan aktivitas terlalu fisik seperti bermain bola, apalagi pergi terlalu jauh dari rumah. Perempuan cenderung disuruh bermain boneka, atau masak-masakan. Sejak kecil juga orang tua kita terbiasa menggunakan embel-embel jenis kelamin saat mendidik atau menasehati kita. "Perempuan harus rajin", "Perempuan tidak boleh kasar", "Perempuan harus bersih dan rapi", "Perempuan harus bisa masak", atau yang paling parah "Perempuan harus merawat kecantikan".

Menjadi rajin, sopan, bersih, rapi, memang harus ditanamkan kepada anak tapi bukan hanya kepada perempuan. Semua manusia perlu diajarkan seperti itu. Masak dan cantik selalu identik dengan perempuan. Tidak bisa masak dan tidak cantik? Belum tentu menjadi menantu idaman. Belum lagi di sekolah, kampus, dunia kerja, atau rumah tangga. Posisi kepala, ketua, pimpinan, sebagian besar diambil oleh kaum laki-laki. Keputusan yang diambil paling banyak juga diambil oleh laki-laki.

Saya selalu bilang: saya benci patriarki, sampai kapanpun dan dalam bentuk apapun. Bentuk patriarki tidak sesederhana bahwa kaum wanita sulit mendapatkan pekerjaan atau diskriminasi. Bentuk patriarki lebih dari itu, masih ada di berbagai ranah kehidupan, dan bagi saya masih terlalu mengerikan.

Patriarki membuat perempuan dinilai lebih lemah dan cenderung direndahkan laki-laki. Membuat laki-laki berpikir bisa berbuat seenaknya terhadap perempuan. Bahkan membuat laki-laki memandang perempuan hanya sebatas pemanis bahkan pemuas kebutuhan semata. Anda butuh fakta? Mari bicara kekerasan seksual.

Kekerasan seksual banyak dilakukan karena laki-laki merasa punya posisi di atas perempuan. Anda butuh contoh? Baik. kekerasan seksual ayah terhadap anak perempuan, suami terhadap istri, atasan laki-laki terhadap karyawan perempuan, pengajar laki-laki terhadap perempuan, laki-laki terhadap pasangan perempuannya, dan masih banyak lagi. Semua ini ada karena laki-laki merasa punya kuasa dan hal atas perempuan. Atau sesederhana perempuan dinilai tidak bisa melawan saat menjadi korban kekerasan seksual.

Patriarki membuat perempuan harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa dia mampu. Setelah dia bekerja keras dan dinilai mampu, tetap saja ruang untuk dia berkarya dibatasi. Akhirnya sesama perempuan justru berlomba menempati posisi sempit itu. Berapa banyak perempuan di lingkungan Anda yang memiliki posisi strategis? Berapa banyak di lingkungan Anda perempuan yang harus mengalahkan perempuan lain untuk mendapatkan posisi yang dia inginkan?

Patriarki membuat perempuan dinilai lebih bodoh dan cenderung tidak didengar. Padahal perempuan tidak diberikan akses untuk sekolah dan belajar. Perempuan tidak diberi ruang diskusi dan cenderung dihindari. Perempuan tidak diberikan ruang untuk menyuarakan pendapatnya, membela dirinya, bahkan dicela omongannnya. Perempuan harus bersuara lebih keras untuk didengar. Dan meski sudah keras, perempuan masih tidak didengar oleh laki-laki.

Patriarki membuat tugas perempuan untuk melahirkan dan menyusui anak disalahgunakan. Bahwa perempuan tugasnya harus duduk di rumah, membesarkan anak, dan melayani suami. Bahwa perempuan harus subur dan bisa memiliki anak. Bahwa perempuan harus menjaga anak dan keluarga sendirian tanpa bantuan suami. Bahwa perempuan tidak boleh mengejar mimpinya meski tujuannya mulia. Padahal anak tidak hanya butuh ibu tapi butuh sosok seorang ayah. Perempuan juga butuh dukungan dan dilayani oleh suami. Padahal suami istri yang tidak memiliki anak bukan melulu salah istri, suami juga bisa mandul. Padahal perempuan adalah sosok yang diperlukan untuk berkarya dan berkontribusi untuk dunia ini.

Patriarki juga membuat laki-laki harus lebih kuat dari perempuan. Laki-laki lemah hanya dipandang sebelah mata oleh perempuan dan laki-laki lain. Laki-laki harus punya kuasa dan ekonomi lebih tinggi dari perempuan. Patriarki tidak disadari juga merugikan laki-laki.

Sebagai manusia saya ingin saya dan perempuan lain dihargai dan didengar. Saya ingin perempuan lain diberi kesempatan dan derajat yang sama dengan laki-laki. Saya juga tidak ingin perempuan menilai laki-laki sebagai penindas perempuan. Saya ingin baik perempuan dan laki-laki saling mengerti bahwa mereka sama-sama manusia dan sudah seharusnya layak diperlakukan sebagai manusia.

Saya masih percaya Tuhan. Dan saya percaya Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai pelengkap di bumi. Bahwa ada hal-hal yang tidak bisa disentuh oleh laki-laki dan ada hal-hal yang tidak bisa disentuh oleh perempuan. Ada hal-hal yang tidak dipikirkan laki-laki dan ada hal-hal yang tidak dipikirkan perempuan. Tapi berbeda bukan berarti tidak bisa setara. Merendahkan manusia lain dengan alasan apapun adalah salah.

Patriarki sudah seharusnya dihentikan dan ditinggalkan. Sudah saatnya kita mengubah pola pikir kita dan masyarakat sekitar kita. Ubah cara pandang terhadap gender lain apapun gender kalian. Mulai dari diri Anda sendiri, bagikan ke manusia lain. Saya harap Anda melakukan itu, itupun jika Anda masih punya kemanusiaan.

Comments

Popular posts from this blog

Love Myself

Terkadang seorang manusia harus berhenti sejenak di sela-sela harinya, dan bertanya, "Sudah sejauh apa aku mencintai diriku sendiri?". Dua minggu kemarin adalah dua minggu tanpa jeda

Dua Puluh Tiga

September ini, wanita berambut panjang itu genap berusia dua-puluh-tiga tahun. Cukup dekat dengan seperempat abad.  Dua puluh tiga tahun hidup banyak hal yang wanita itu jalani. Naik turun. Kadang di atas, kadang atas banget, kadang di bawah, kadang nyungsep bawah banget. Yah suka suka kehidupan mau bawa dia kemana. Saat ini wanita itu sudah lulus kuliah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada kebingungan yang ia hadapi, akan kemana ia melangkah? Tidak, wanita ini tidak kehabisan mimpi. Justru sejak kecil ia hidup karena mimpinya. Ia hanya bingung bagaimana cara ia memulai mimpinya. Rasanya ia seperti mendapat firasat usia ini adalah titik balik kehidupannya. Wanita itu kemudian mengingat dua puluh tiga tahun kehidupannya. Mengingat bagaimana ia akhirnya lulus setelah bersusah payah menyelesaikan tugas akhir, karena sungguh ia adalah manusia perfeksionis yang menyulitkan diri sendiri. Bagaimana ia bisa begitu bebas keluas masuk goa, padahal ia takut ketinggian, dan bukan s...

Negeri Dongeng

Di negeri dongeng, akhir manis selalu dicintai. Padahal sebenar-benarnya negeri dongeng terkadang perlu akhir yang pahit. Karena tidak asik merasakan manis dari sebuah gula yang memang sudah manis. Seperti kopi yang pahit tapi asik kalau diminum, seperti itulah hidup. Asik ketika kamu bisa merasakan rasa tersembunyi dari pahitnya kopimu.  Pahit manis hanya rasa yang dipersepsikan oleh otakku, otakmu, otak dia secara berbeda. Bagiku sayur ini asin, bagimu tidak, bagi dia sudah pas. Maka rasa hidupmu otak mu sendiri yang menentukan. Kamu bahagia atau tidak itu keputusan otakmu. Bahkan di negeri dongeng sekalipun.