Seringkali sesama perempuan justru saling menjatuhkan, saling membandingkan, atau justru saling menghakimi. Sesama anak peremupan, sesama murid perempuan, sesama guru perempuan, sesama pekerja perempuan, sesama pemimpin perempuan, sesama istri (beda suami lho, ya), bahkan sesama ibu Padahal seharusnya perempuan yang paling mengerti perempuan lain. Padahal seharusnya perempuan yang paling bisa menerima kondisi perempuan lain. Padahal seharusnya dukungan terbesar hadir justru dari sesama perempuan.
Selamat datang di Sudut Pandang saya.