September ini, wanita berambut panjang itu genap berusia dua-puluh-tiga tahun. Cukup dekat dengan seperempat abad.
Dua puluh tiga tahun hidup banyak hal yang wanita itu jalani. Naik turun. Kadang di atas, kadang atas banget, kadang di bawah, kadang nyungsep bawah banget. Yah suka suka kehidupan mau bawa dia kemana.
Saat ini wanita itu sudah lulus kuliah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada kebingungan yang ia hadapi, akan kemana ia melangkah?
Tidak, wanita ini tidak kehabisan mimpi. Justru sejak kecil ia hidup karena mimpinya. Ia hanya bingung bagaimana cara ia memulai mimpinya. Rasanya ia seperti mendapat firasat usia ini adalah titik balik kehidupannya.
Saat ini wanita itu sudah lulus kuliah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada kebingungan yang ia hadapi, akan kemana ia melangkah?
Tidak, wanita ini tidak kehabisan mimpi. Justru sejak kecil ia hidup karena mimpinya. Ia hanya bingung bagaimana cara ia memulai mimpinya. Rasanya ia seperti mendapat firasat usia ini adalah titik balik kehidupannya.
Wanita itu kemudian mengingat dua puluh tiga tahun kehidupannya. Mengingat bagaimana ia akhirnya lulus setelah bersusah payah menyelesaikan tugas akhir, karena sungguh ia adalah manusia perfeksionis yang menyulitkan diri sendiri. Bagaimana ia bisa begitu bebas keluas masuk goa, padahal ia takut ketinggian, dan bukan seseorang yang menyukai hal yang teknis. Bagaimana ia bisa masuk kuliah padahal ia berada di peringkat tiga terbawah di kelas. Bagaimana ia menjadi duta wisata, setelah pernah terjungkal saat melakukan fashion show pertamanya. Bagaimana ia menjadi seseorang yang mandiri padahal dulu ia selalu menangis ketika disuruh pergi ke warung.
Wanita itu lantas tersenyum. Keberhasilannya ia lalui dengan usaha dan kegagalan itu sendiri, dan tentu saja campur tangan Tuhan.
Kemudian ia mengambil pulpennya dan menuliskan kembali mimpi-mimpinya serta perwujudan versinya.
Comments
Post a Comment