Basa basi bisa jadi kunci sebuah perbincangan, tapi terkadang basa basi juga bisa jadi awal dari permusuhan. Basa basi memang masih diperlukan sampai saat ini. Tapi butuh pola pikir baru untuk berbasa basi dengan orang. Saya juga masih belajar.
Basa basi bisa dilakukan tanpa menyakiti lawan bicara. Saya rasa basa basi tidak harus dengan mengulik kehidupan lawan bicara, tidak harus dengan mengomentari fisik, apalagi
ikut campur kehidupan mereka.
Hal yang sering saya lakukan sebelum berbasa basi adalah mencoba memahami posisi lawan bicara. Mencoba menggali seberapa dalam hubungan saya dengan lawan bicara, seberapa penting bagi saya untuk tahu tentang kehidupan dia, sampai seberapa jauh pertanyaan dan obrolan kami akan berpengaruh di dirinya. Kenyataanya, kita tidak akan pernah tahu perasaan dan hati orang lain.
Setelah memahami posisi lawan bicara, coba hargai lawan bicara. Cobalah berempati. Berempati adalah yang yang sangat sulit dan memang harus dilatih. Tekan perasaan ingin tahu kalian sebesar apapun perasaan itu. Gue juga kepo. Tapi coba hargai privasi orang lain. Tidak semua orang akan nyaman membagi ceritanya denganmu. Pun ketika saya ingin bertanya karena sayang peduli, saya tidak pernah memaksa dan mencoba bertanya dengan halus. Bila saya memang diijinkan untuk membantu ataupun hanya sekedar tempat membagi cerita, biarkan kepercayaannya yang membuat dia bicara.
Menanyakan kabar sebagai bagian dari basa basi masih relevan menurutku, dengan catatan benar-benar menanyakan kabar ya. Saya selalu berusaha tulus setiap menanyakan kabar karena saya benar-benar ingin tahu apakah lawan bicara saya baik-baik saja atau tidak. Cobalah menanyakan lawan bicaramu hal-hal umum, hal-hal yang tidak privasi, atau cobalah menanyakan hal-hal yang justru bisa kamu bantu. Tidak perlulah menanyakan pekerjaan dia, kalau kamu nggak bisa bantu dia mencari pekerjaan. Pertanyaanmu cuma bikin lawan bicaramu minder. Apalagi menanyakan jodoh, anak, dan hal lain yang itu memang kehendak Tuhan. Tanya aja sama Tuhan langsung.
Saya tahu mengubah sesuatu yang menjadi kebiasaan memang sulit. Saya juga masih belajar. Terkadang masih lupa untuk lebih berempati dengan sesama. Tulisan ini dibuat juga sebagai pengingat untuk lebih berhati-hati saat bicara. Di dunia nyata saya jauh lebih bisa berempati ketika berbicara, tapi di media sosial perasaan ingin tahu terkadang masih sangat sulit untuk ditekan. Yah, saya sedang berusaha, semoga saya bisa, pun semoga kalian bisa :)
Basa basi bisa dilakukan tanpa menyakiti lawan bicara. Saya rasa basa basi tidak harus dengan mengulik kehidupan lawan bicara, tidak harus dengan mengomentari fisik, apalagi
ikut campur kehidupan mereka.
Hal yang sering saya lakukan sebelum berbasa basi adalah mencoba memahami posisi lawan bicara. Mencoba menggali seberapa dalam hubungan saya dengan lawan bicara, seberapa penting bagi saya untuk tahu tentang kehidupan dia, sampai seberapa jauh pertanyaan dan obrolan kami akan berpengaruh di dirinya. Kenyataanya, kita tidak akan pernah tahu perasaan dan hati orang lain.
Setelah memahami posisi lawan bicara, coba hargai lawan bicara. Cobalah berempati. Berempati adalah yang yang sangat sulit dan memang harus dilatih. Tekan perasaan ingin tahu kalian sebesar apapun perasaan itu. Gue juga kepo. Tapi coba hargai privasi orang lain. Tidak semua orang akan nyaman membagi ceritanya denganmu. Pun ketika saya ingin bertanya karena sayang peduli, saya tidak pernah memaksa dan mencoba bertanya dengan halus. Bila saya memang diijinkan untuk membantu ataupun hanya sekedar tempat membagi cerita, biarkan kepercayaannya yang membuat dia bicara.
Menanyakan kabar sebagai bagian dari basa basi masih relevan menurutku, dengan catatan benar-benar menanyakan kabar ya. Saya selalu berusaha tulus setiap menanyakan kabar karena saya benar-benar ingin tahu apakah lawan bicara saya baik-baik saja atau tidak. Cobalah menanyakan lawan bicaramu hal-hal umum, hal-hal yang tidak privasi, atau cobalah menanyakan hal-hal yang justru bisa kamu bantu. Tidak perlulah menanyakan pekerjaan dia, kalau kamu nggak bisa bantu dia mencari pekerjaan. Pertanyaanmu cuma bikin lawan bicaramu minder. Apalagi menanyakan jodoh, anak, dan hal lain yang itu memang kehendak Tuhan. Tanya aja sama Tuhan langsung.
Saya tahu mengubah sesuatu yang menjadi kebiasaan memang sulit. Saya juga masih belajar. Terkadang masih lupa untuk lebih berempati dengan sesama. Tulisan ini dibuat juga sebagai pengingat untuk lebih berhati-hati saat bicara. Di dunia nyata saya jauh lebih bisa berempati ketika berbicara, tapi di media sosial perasaan ingin tahu terkadang masih sangat sulit untuk ditekan. Yah, saya sedang berusaha, semoga saya bisa, pun semoga kalian bisa :)
Comments
Post a Comment