Skip to main content

Basa Basi yang Basi

Basa basi bisa jadi kunci sebuah perbincangan, tapi terkadang basa basi juga bisa jadi awal dari permusuhan. Basa basi memang masih diperlukan sampai saat ini. Tapi butuh pola pikir baru untuk berbasa basi dengan orang. Saya juga masih belajar.

Basa basi bisa dilakukan tanpa menyakiti lawan bicara. Saya rasa basa basi tidak harus dengan mengulik kehidupan lawan bicara, tidak harus dengan mengomentari fisik, apalagi
ikut campur kehidupan mereka.

Hal yang sering saya lakukan sebelum berbasa basi adalah mencoba memahami posisi lawan bicara. Mencoba menggali seberapa dalam hubungan saya dengan lawan bicara, seberapa penting bagi saya untuk tahu tentang kehidupan dia, sampai seberapa jauh pertanyaan dan obrolan kami akan berpengaruh di dirinya. Kenyataanya, kita tidak akan pernah tahu perasaan dan hati orang lain.

Setelah memahami posisi lawan bicara, coba hargai lawan bicara. Cobalah berempati. Berempati adalah yang yang sangat sulit dan memang harus dilatih. Tekan perasaan ingin tahu kalian sebesar apapun perasaan itu. Gue juga kepo. Tapi coba hargai privasi orang lain. Tidak semua orang akan nyaman membagi ceritanya denganmu. Pun ketika saya ingin bertanya karena sayang peduli, saya tidak pernah memaksa dan mencoba bertanya dengan halus. Bila saya memang diijinkan untuk membantu ataupun hanya sekedar tempat membagi cerita, biarkan kepercayaannya yang membuat dia bicara.

Menanyakan kabar sebagai bagian dari basa basi masih relevan menurutku, dengan catatan benar-benar menanyakan kabar ya. Saya selalu berusaha tulus setiap menanyakan kabar karena saya benar-benar ingin tahu apakah lawan bicara saya baik-baik saja atau tidak. Cobalah menanyakan lawan bicaramu hal-hal umum, hal-hal yang tidak privasi, atau cobalah menanyakan hal-hal yang justru bisa kamu bantu. Tidak perlulah menanyakan pekerjaan dia, kalau kamu nggak bisa bantu dia mencari pekerjaan. Pertanyaanmu cuma bikin lawan bicaramu minder. Apalagi menanyakan jodoh, anak, dan hal lain yang itu memang kehendak Tuhan. Tanya aja sama Tuhan langsung.

Saya tahu mengubah sesuatu yang menjadi kebiasaan memang sulit. Saya juga masih belajar. Terkadang masih lupa untuk lebih berempati dengan sesama. Tulisan ini dibuat juga sebagai pengingat untuk lebih berhati-hati saat bicara. Di dunia nyata saya jauh lebih bisa berempati ketika berbicara, tapi di media sosial perasaan ingin tahu terkadang masih sangat sulit untuk ditekan. Yah, saya sedang berusaha, semoga saya bisa, pun semoga kalian bisa :)






Comments

Popular posts from this blog

Love Myself

Terkadang seorang manusia harus berhenti sejenak di sela-sela harinya, dan bertanya, "Sudah sejauh apa aku mencintai diriku sendiri?". Dua minggu kemarin adalah dua minggu tanpa jeda

Dua Puluh Tiga

September ini, wanita berambut panjang itu genap berusia dua-puluh-tiga tahun. Cukup dekat dengan seperempat abad.  Dua puluh tiga tahun hidup banyak hal yang wanita itu jalani. Naik turun. Kadang di atas, kadang atas banget, kadang di bawah, kadang nyungsep bawah banget. Yah suka suka kehidupan mau bawa dia kemana. Saat ini wanita itu sudah lulus kuliah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada kebingungan yang ia hadapi, akan kemana ia melangkah? Tidak, wanita ini tidak kehabisan mimpi. Justru sejak kecil ia hidup karena mimpinya. Ia hanya bingung bagaimana cara ia memulai mimpinya. Rasanya ia seperti mendapat firasat usia ini adalah titik balik kehidupannya. Wanita itu kemudian mengingat dua puluh tiga tahun kehidupannya. Mengingat bagaimana ia akhirnya lulus setelah bersusah payah menyelesaikan tugas akhir, karena sungguh ia adalah manusia perfeksionis yang menyulitkan diri sendiri. Bagaimana ia bisa begitu bebas keluas masuk goa, padahal ia takut ketinggian, dan bukan s...

Negeri Dongeng

Di negeri dongeng, akhir manis selalu dicintai. Padahal sebenar-benarnya negeri dongeng terkadang perlu akhir yang pahit. Karena tidak asik merasakan manis dari sebuah gula yang memang sudah manis. Seperti kopi yang pahit tapi asik kalau diminum, seperti itulah hidup. Asik ketika kamu bisa merasakan rasa tersembunyi dari pahitnya kopimu.  Pahit manis hanya rasa yang dipersepsikan oleh otakku, otakmu, otak dia secara berbeda. Bagiku sayur ini asin, bagimu tidak, bagi dia sudah pas. Maka rasa hidupmu otak mu sendiri yang menentukan. Kamu bahagia atau tidak itu keputusan otakmu. Bahkan di negeri dongeng sekalipun.