Skip to main content

Untuk Mama

 Bohong sih, kalau saya bilang saya nggak pernah sekalipun iri sama kegiatan orang lain selama merawat mama yang lagi sakit. Dan hal yang paling bikin saya iri adalah main dengan anak kecil. Sudah lama sekali saya tidak berinteraksi dengan anak-anak. Terakhir entah kapan.

Akhirnya saya menyelipkan satu doa diantara doa-doa saya yang lain. Saya minta supaya setelah Mama sembuh, saya dikasih kesemptan jadi relawan (apapun deh) yang berhubungan dengan anak-anak. Saya juga request kalau bisa tetap tidak menganggu kewajiban saya untuk merawat mama yang belum sembuh.

Doanya langsung dikabulin sama Allah SWT. Tiga hari setelah pulang dari rumah sakit, ada seorang teman yang ngajak aku jadi relawan. Weekend lagi kegiatannya. Alhamdulillah...

Nah hari ini, karena keasikan ngobrol di sela-sela bikin komik bareng anak-anak, saya jadi keceplosan curhat kalau hari ini harus buru-buru pulang untuk merayakan ulang tahun Mama. Ehh anak-anak baik ini langsung titip salam buat Mama, dan foto ini ceritanya diambil buat dikasih ke Mama.

Sehat dan tumbuh jadi anak baik ya kalian semua 💙

Comments

Popular posts from this blog

Love Myself

Terkadang seorang manusia harus berhenti sejenak di sela-sela harinya, dan bertanya, "Sudah sejauh apa aku mencintai diriku sendiri?". Dua minggu kemarin adalah dua minggu tanpa jeda

Dua Puluh Tiga

September ini, wanita berambut panjang itu genap berusia dua-puluh-tiga tahun. Cukup dekat dengan seperempat abad.  Dua puluh tiga tahun hidup banyak hal yang wanita itu jalani. Naik turun. Kadang di atas, kadang atas banget, kadang di bawah, kadang nyungsep bawah banget. Yah suka suka kehidupan mau bawa dia kemana. Saat ini wanita itu sudah lulus kuliah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada kebingungan yang ia hadapi, akan kemana ia melangkah? Tidak, wanita ini tidak kehabisan mimpi. Justru sejak kecil ia hidup karena mimpinya. Ia hanya bingung bagaimana cara ia memulai mimpinya. Rasanya ia seperti mendapat firasat usia ini adalah titik balik kehidupannya. Wanita itu kemudian mengingat dua puluh tiga tahun kehidupannya. Mengingat bagaimana ia akhirnya lulus setelah bersusah payah menyelesaikan tugas akhir, karena sungguh ia adalah manusia perfeksionis yang menyulitkan diri sendiri. Bagaimana ia bisa begitu bebas keluas masuk goa, padahal ia takut ketinggian, dan bukan s...

Negeri Dongeng

Di negeri dongeng, akhir manis selalu dicintai. Padahal sebenar-benarnya negeri dongeng terkadang perlu akhir yang pahit. Karena tidak asik merasakan manis dari sebuah gula yang memang sudah manis. Seperti kopi yang pahit tapi asik kalau diminum, seperti itulah hidup. Asik ketika kamu bisa merasakan rasa tersembunyi dari pahitnya kopimu.  Pahit manis hanya rasa yang dipersepsikan oleh otakku, otakmu, otak dia secara berbeda. Bagiku sayur ini asin, bagimu tidak, bagi dia sudah pas. Maka rasa hidupmu otak mu sendiri yang menentukan. Kamu bahagia atau tidak itu keputusan otakmu. Bahkan di negeri dongeng sekalipun.