Saat ini Yogya sedang turun hujan. Seharusnya ada secangkir kopi yang menemaniku menikmati alunan suara hujan. Tapi hari ini aku harus mengalah pada kondisiku yang sedang kurang baik.
Aku punya kesenangan sendiri terhadap kopi dan hujan. Kalau bukan karena kondisiku aku menjamin bahwa setiap hujan akan selalu aku nikmati bersama kopi. Karena aroma kopi dan suara hujan adalah seni yang apik. Ah, andai saja aku sedang sehat!
Hujan selalu sukses membuat aku seorang manusia menjadi galau. Butir air yang jatuh dari langit sendunya secara misterius ikut membawa sebuah kenangan. Sebuah kenangan peristiwa kecil seorang manusia di kala hujan kemarin.
Bahkan hujan secara ajaib mampu membuat dua manusia yang sedang jatuh cinta tidak butuh apa-apa untuk bahagia. Mereka hanya duduk diam di bawah atap menunggu hujan turun, sambil sesekali melirik satu sama lain dan tersenyum kecil. Romantis. Seperti tujuh warna yang ia tinggalkan di siang hari. Seperti pantulan cahaya lampu yang ia tinggalkan di jalanan. Seperti bau basah yang ia bawa. Sama seperti aroma kopi yang menenangkan otak yang terlalu lelah berpikir.
Kopi dan aku bagaikan seorang pangeran negeri seberang dan putri tidur. Kesukaanku pada kopi dimulai ketika ia berhasil mengalahkan rasa kantukku, dimanapun, kapanpun. Tapi kemudian kopi bukan hanya sebagai penghilang rasa kantuk. Ia perlahan berubah menjadi seduhan biji kopi yang asik.
Kopi adalah sebuah bukti bahwa rasa pahit punya kenikmatan tersendiri. Penikmat kopi sadar bahwa rasa pahitnya adalah gambaran nasib pahit yang bisa menyapa siapa saja. Tinggal apakah kamu mau menikmatinya atau tidak. Kalau tidak kamu bisa menambahkan gula. Tapi hati-hati kebanyakan gula bisa membuatmu diabetes.
Jadi saranku nikmati saja, seperti aku yang selalu menikmati kopi dan hujan. Seperti itulah salah satu caraku bersyukur.
Comments
Post a Comment