Skip to main content

Kopi dan Hujan

Saat ini Yogya sedang turun hujan. Seharusnya ada secangkir kopi yang menemaniku menikmati alunan suara hujan. Tapi hari ini aku harus mengalah pada kondisiku yang sedang kurang baik.
Aku punya kesenangan sendiri terhadap kopi dan hujan. Kalau bukan karena kondisiku aku menjamin bahwa setiap hujan akan selalu aku nikmati bersama kopi. Karena aroma kopi dan suara hujan adalah seni yang apik. Ah, andai saja aku sedang sehat!
Hujan selalu sukses membuat aku seorang manusia menjadi galau. Butir air yang jatuh dari langit sendunya secara misterius ikut membawa sebuah kenangan. Sebuah kenangan peristiwa kecil seorang manusia di kala hujan kemarin.
Bahkan hujan secara ajaib mampu membuat dua manusia yang sedang jatuh cinta tidak butuh apa-apa untuk bahagia. Mereka hanya duduk diam di bawah atap menunggu hujan turun, sambil sesekali melirik satu sama lain dan tersenyum kecil. Romantis. Seperti tujuh warna yang ia tinggalkan di siang hari. Seperti pantulan cahaya lampu yang ia tinggalkan di jalanan. Seperti bau basah yang ia bawa. Sama seperti aroma kopi yang menenangkan otak yang terlalu lelah berpikir.
Kopi dan aku bagaikan seorang pangeran negeri seberang dan putri tidur. Kesukaanku pada kopi dimulai ketika ia berhasil mengalahkan rasa kantukku, dimanapun, kapanpun. Tapi kemudian kopi bukan hanya sebagai penghilang rasa kantuk. Ia perlahan berubah menjadi seduhan biji kopi yang asik.
Kopi adalah sebuah bukti bahwa rasa pahit punya kenikmatan tersendiri. Penikmat kopi sadar bahwa rasa pahitnya adalah gambaran nasib pahit yang bisa menyapa siapa saja. Tinggal apakah kamu mau menikmatinya atau tidak. Kalau tidak kamu bisa menambahkan gula. Tapi hati-hati kebanyakan gula bisa membuatmu diabetes.
Jadi saranku nikmati saja, seperti aku yang selalu menikmati kopi dan hujan. Seperti itulah salah satu caraku bersyukur.

Comments

Popular posts from this blog

Love Myself

Terkadang seorang manusia harus berhenti sejenak di sela-sela harinya, dan bertanya, "Sudah sejauh apa aku mencintai diriku sendiri?". Dua minggu kemarin adalah dua minggu tanpa jeda

Dua Puluh Tiga

September ini, wanita berambut panjang itu genap berusia dua-puluh-tiga tahun. Cukup dekat dengan seperempat abad.  Dua puluh tiga tahun hidup banyak hal yang wanita itu jalani. Naik turun. Kadang di atas, kadang atas banget, kadang di bawah, kadang nyungsep bawah banget. Yah suka suka kehidupan mau bawa dia kemana. Saat ini wanita itu sudah lulus kuliah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada kebingungan yang ia hadapi, akan kemana ia melangkah? Tidak, wanita ini tidak kehabisan mimpi. Justru sejak kecil ia hidup karena mimpinya. Ia hanya bingung bagaimana cara ia memulai mimpinya. Rasanya ia seperti mendapat firasat usia ini adalah titik balik kehidupannya. Wanita itu kemudian mengingat dua puluh tiga tahun kehidupannya. Mengingat bagaimana ia akhirnya lulus setelah bersusah payah menyelesaikan tugas akhir, karena sungguh ia adalah manusia perfeksionis yang menyulitkan diri sendiri. Bagaimana ia bisa begitu bebas keluas masuk goa, padahal ia takut ketinggian, dan bukan s...

Negeri Dongeng

Di negeri dongeng, akhir manis selalu dicintai. Padahal sebenar-benarnya negeri dongeng terkadang perlu akhir yang pahit. Karena tidak asik merasakan manis dari sebuah gula yang memang sudah manis. Seperti kopi yang pahit tapi asik kalau diminum, seperti itulah hidup. Asik ketika kamu bisa merasakan rasa tersembunyi dari pahitnya kopimu.  Pahit manis hanya rasa yang dipersepsikan oleh otakku, otakmu, otak dia secara berbeda. Bagiku sayur ini asin, bagimu tidak, bagi dia sudah pas. Maka rasa hidupmu otak mu sendiri yang menentukan. Kamu bahagia atau tidak itu keputusan otakmu. Bahkan di negeri dongeng sekalipun.