Skip to main content

Cerita di Sebuah Keluarga

Bersama kita melagukan nada, di tengah alam raya… Dalam keheningan alam semesta, bersama Palapsi… Pecinta alam kita, palapsi tercinta… Satu padu dalam keakraban, menghayati kehidupan.. Pecinta alam kita, palapsi tercinta…” Tidak terasa sudah tiga tahun saya menyanyikan hymne ini. Artinya sudah tiga tahun juga saya bermain bersama palapsi. Terasa singkat memang, namun penuh arti. Tidak terasa pula sudah 40 tahun Palapsi lahir di dunia fana ini.
Palapsi di mata saya ibarat keluarga jauh yang menetap di perantauan. Kemudian, saya datang untuk kuliah sekaligus mengunjungi mereka. Sebenernya ketika datang ke Jogja saya tidak berpikir membangun keluarga baru─belum terpikir untuk menikah cepat─, tetapi saya justru mendapat keluarga besar dengan cuma-cuma bahkan tanpa harus menikah! haha. Lalu bagaimana saya bisa mendapat keluarga baru ini?
Banyak yang bilang Palapsi itu menjebak anggotanya (Palapsier). Bahkan ada yang bilang, “Palapsi itu jebakan Batman.” Kok bisa? Awal masuk Palapsi adalah hal yang menyenangkan bagi hampir semua Palapsier. Bagaimana tidak? Palapsi mengajarkan berbagai banyak hal, menerima dengan tangan terbuka, mengayomi dengan ramah dan kekeluargaan. Indah, seru, asik, dan penuh pengalaman! Itu yang saya rasakan dan menjadi alasan saya berada di Palapsi. Lalu, dimana jebakannya?
Kalau ada yang menganggap bahwa Palapsi bukan “organisasi” banget yang saklek seperti BEM KM, atau sejenisnya. Mereka salah besar!  Berada di Palapsi berarti kamu harus punya keahlian berorganisasi, membagi waktu, membagi pikiran, bekerja di bawah tekanan, dan tetap menikmati beraktivitas di alam plus mencari uang untuk menunjang kegiatan. Yep, agenda Palapsi selalu padat tetapi menyenangkan.
So, pertanyaannya, kenapa mereka sanggup dan betahan di Palapsi? Kenapa masih berada di Palapsi walau sudah di”jebak”? Palapsi tidak pernah berniat menjebak siapapun. Karena palapsi memang merupakan sebuah keluarga. Bahkan ketika kamu sudah tidak aktif. Keluarga tetaplah keluarga. Tidak heran hubungan antara  Palapsier yang sudah lulus Psikologi dan yang belum terjalin lumayan baik. Jadi penerimaan Palapsi adalah penerimaan terhadap keluarga baru. Nah bagaimana dengan agenda yang padat?
Palapsi merupakan sebuah organisasi pecinta alam. Sudah pasti memiliki tuntutan yang sangat banyak. Sebagai pecinta alam Palapsi harus menjaga kegiatannya dan eksistensinya sebagai organisasi Mapala. Menjadi Mapala yang eksis, Palapsi harus menjadi sebuah organisasi yang luar biasa. Ditambah pula, kegiatan Palapsi yang melibatkan dana menuntut Palapsi untuk mengasah otak agar kegiatan Palapsi tetap berjalan. Kompleks ya? Tapi banyak pelajaran dan pengalaman yang di dapat. Saya rasa itu alasan Palapsier betah di Palapsi, selain tentu saja rasa cinta dan sayang kepada organisasi itu sendiri. Belum lagi pelajaran dan pengalaman dari kegiatan operasionalnya. Entah benar atau tidak, tapi itu pandangan saya.
Palapsi mengajarkan untuk lebih melihat proses daripada hasil. Dan saya banyak belajar mengenai proses di tim saya, caving. Palapsi memiliki kegiatan yang terdiri dari lima divisi, air, goa, tebing, gunung, dan PPM (Penelitian dan Pengabdian Masyarakat). Diantara lima divisi yang luar biasa itu, saya memilih untuk berproses di divisi goa, atau bisa disebut caving.
Caving merupakan keluarga kecil saya di Palapsi. Dan hal yang saya suka ketika proses perkenalan keluarga kecil ini adalah saat Follow Up Diklat Palapsi. FUD membuat saya sangat mengenal baik susunan tim caving. Saya tahu kebiasaan, sifat, tingkah, dan kesukaan mereka. Mulai dari cara mereka masak, makan, dan bangun tidur. Berapa lama mereka mandi, ganti baju, jogging, dan naik turun lintasan SRT. Apa yang mereka suka, tidak suka, benci, dan takut. Saya paham kode yang terjadi bila mereka mengalami sesuatu. Akhirnya saya menemukan bagaimana sebuah dinamika tim itu. Semua hal pernah saya jalani bersama tim caving. Senang, suka, duka, sedih, marah, jengkel, kesel, hingga mangkel. Ada kalanya kami cekcok seharian, makan sampai larut malam, tertawa sampai perut sakit, bahkan ajak mogok bicara di goa. Yep, keluarga kecil yang penuh warna.
Caving merubah banyak hal di diri saya, bahkan mengajarkan nilai palapsi yang terkenal, never give up. Saya bukan penyuka ketinggian. Jangankan disuruh SRT-an, naik motor ada turunan dikit saja saya gemetar plus keringetan lebay. Beruntung goa diciptakan tanpa cahaya, saya jadi berani untuk turun walau harus mikir-mikir dulu. Ketakutan saya justru ketika latihan di babarsari atau turun di goa-goa yang entrance nya masih mendapatkan sinar matahari yang cukup. Mau tidak mau saya harus menyingkirkan ketakutan saya, masa mau give up? Well, perlahan saya belajar bahwa butuh keberanian lebih untuk mendapatkan sesuatu. Ketakutan dan keberanian sendiri sebenernya hanya berada di dalam pikiran kita sendiri.
Awal masuk caving merupakan momen-momen menyenangkan bagi saya. Setiap minggu saya mengunjungi goa-goa berbeda, mengalami kejadian kejadian menantang yang seram tapi terkadang membuat perut terkocok, lucu dan seru! Kendala muncul ketika saya tidak bisa ikut during karena ada kegiatan yang lebih penting. Persiapan demi persiapan kegiatan membuat saya perlahan tidak bisa mengikuti proses FUD dengan baik. Namun, saya tetap mencoba untuk berproses bersama tim meskipun saya tidak mengikuti during ke Sulawesi.
FUD selanjutnya saya tidak punya banyak harapan. Terlahir dengan kelainan jantung membuat saya sedikit kesulitan menghadapi latihan fisik. Bahkan saya tidak pernah diijinkan untuk melakukan olahraga yang ngeden, sebenarnya. Tapi apa boleh buat, saya sudah jatuh cinta pada goa. Tidak pernah terpikir dalam pikiran saya untuk ikut during FUD kedua. Saya hanya berusaha mengikuti proses dengan baik. Bahkan ketika saya survey lokasi during di Madura, saya masih bertanya di dalam diri saya, “bisa ikut during tidak ya?”. Proses dan never give up menjawab pertanyaan saya dengan sebuah jumper Palapsi yang ada di tangan saya. Saya lulus FUD 2014.
Saya bersyukur kuliah di Psikologi UGM, salah satunya adalah karena saya bisa bertemu dan mengenal Palapsi. Saya pasti mala rindu bila nanti sudah tidak aktif lagi di Palapsi─tulisan ini saya buat ketika masih aktif menjadi pengurus─. Rindu kegiatan operasional yang membuat weekend saya mengasyikkan dan penuh cerita baru. Rindu tim kecil saya. Rindu kegiatan yang menyekik leher saya. Rindu proses besar dalam dua tahun kepengurusan saya: XPDC New Zealand.
Sampai saat saya masih terharu bila mendengar kata XPDC. Well, saya sebenarnya bukan siapa-siapa di kepanitiaan XPDC. Saya hanyalah seonggok keriki; kecil yang membantu jualan sana-sini untuk menunjang dana XPDC. Dibandingkan kontribusi panitia lain, saya sih bukan apa-apa. Tapi, saya belajar untuk berproses dan bangkit ketika saya give up dan menyerah. Apapun yang terjadi saya harus tetap melakukan tugas saya sebaik yang saya bisa. Akhirnya, saya mulai lebih paham lagi akan sebuah proses, never give up, dan hal baru: mimpi.
Jauh sebelum saya mendengar XPDC Palapsi saya punya mimpi kecil terhadap tim caving saya: mengeksplore goa Son Doong di Vietnam. Tapi saya tidak pernah percaya bahwa kami bisa sampai sana. Tapi setelah XPDC saya percaya bahwa Palapsi adalah wadah bagi orang-orang yang percaya akan mimpi. Dan saya percaya bahwa mimpi saya suatu saat akan terwujud walau harus ditempuh proses yang sangat panjang.
40 tahun usia Palapsi sekarang. Saya yakin banyak perubahan yang terjadi seiring berjalannya usia. Palapsi sekarang pasti tidak sama dengan Palapsi 40 tahun lalu. Zaman sudah berbeda. Zaman sudah jauh berkembang. Dan ketika zaman berubah, manusia tentu akan mengikuti perubahan zaman. Seiring perubahan zaman inilah layak jika Palapsi sedikit demi sedikit merubah hal-hal yang memang perlu dirubah. Mempertahankan nilai-nilai yang sangat pantas untuk dipertahankan dan diturunkan. Tidak dipaksakan namun tetap disesuaikan. Selamat ulang tahun Palapsi yang ke-40. Terima kasih atas perjalanan, pengalaman, dan pembelajaran yang begitu besar. Semoga Palapsi tetap menjadi organisasi yang penuh mimpi, prestasi, dan bermanfaat bagi masyarakat dan alam. “Satu langkah mewujudkan cita, mengabdi pada sesama…

Comments

Popular posts from this blog

Love Myself

Terkadang seorang manusia harus berhenti sejenak di sela-sela harinya, dan bertanya, "Sudah sejauh apa aku mencintai diriku sendiri?". Dua minggu kemarin adalah dua minggu tanpa jeda

Dua Puluh Tiga

September ini, wanita berambut panjang itu genap berusia dua-puluh-tiga tahun. Cukup dekat dengan seperempat abad.  Dua puluh tiga tahun hidup banyak hal yang wanita itu jalani. Naik turun. Kadang di atas, kadang atas banget, kadang di bawah, kadang nyungsep bawah banget. Yah suka suka kehidupan mau bawa dia kemana. Saat ini wanita itu sudah lulus kuliah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada kebingungan yang ia hadapi, akan kemana ia melangkah? Tidak, wanita ini tidak kehabisan mimpi. Justru sejak kecil ia hidup karena mimpinya. Ia hanya bingung bagaimana cara ia memulai mimpinya. Rasanya ia seperti mendapat firasat usia ini adalah titik balik kehidupannya. Wanita itu kemudian mengingat dua puluh tiga tahun kehidupannya. Mengingat bagaimana ia akhirnya lulus setelah bersusah payah menyelesaikan tugas akhir, karena sungguh ia adalah manusia perfeksionis yang menyulitkan diri sendiri. Bagaimana ia bisa begitu bebas keluas masuk goa, padahal ia takut ketinggian, dan bukan s...

Negeri Dongeng

Di negeri dongeng, akhir manis selalu dicintai. Padahal sebenar-benarnya negeri dongeng terkadang perlu akhir yang pahit. Karena tidak asik merasakan manis dari sebuah gula yang memang sudah manis. Seperti kopi yang pahit tapi asik kalau diminum, seperti itulah hidup. Asik ketika kamu bisa merasakan rasa tersembunyi dari pahitnya kopimu.  Pahit manis hanya rasa yang dipersepsikan oleh otakku, otakmu, otak dia secara berbeda. Bagiku sayur ini asin, bagimu tidak, bagi dia sudah pas. Maka rasa hidupmu otak mu sendiri yang menentukan. Kamu bahagia atau tidak itu keputusan otakmu. Bahkan di negeri dongeng sekalipun.