Skip to main content

Di Balik Layar

“Ra, kamu tak tembung mau nggak?”
“Hah, tembung apa?
“Kamu tak tembung jadi Koor. Acara Try Out Palapsi. Aku jadi Koor. Sponsorship. PO-nya Mas Anggra”
“Ooh, program Dana itu? Iya deh”
Ya, awalnya saya mengira menjadi Koor. Acara Try Out Palapsi. Tapi, ternyata saya salah besar. Saya memang menjadi Koor. Acara Try Out Palapsi awalnya. Namun, belum sempat saya bekerja saya sudah berubah fungsi menjadi Koor. Acara yang lain. Try Out Palapsi yang awalnya direncanakan sebagai event dana besar dihapus dan diganti oleh acara seminar. Perubahan acara ini tentu saja telah melalui pertimbangan yang banyak. Berubahnya acara yang diadakan tidak merubah isi dari panitia yang ada di dalamnya. Saya pun otomatis menjadi Koor. Acara seminar ini.
Psikologi, cinta, dan pasangan. Kalimat ini yang muncul di kepala saya ketika harus mengusulkan tema seminar yang akan diadakan. Saya sendiri sama sekali tidak paham apa maksud dari tema ini. Cinta dalam perspektif psikologi itu menarik, dan akan lebih menarik jika dikhususkan lagi dalam hal pasangan atau lawan jenis. Hanya itu yang saya tahu. Ketika mengusulkan tema ini, saya sama sekali tidak berpikir bahwa tema ini akan diterima panitia lain atau bahkan keluar sebagai tema yang digunakan. Tapi, justru tema ini yang dijadikan tema dalam seminar ini.
Apakah saya senang? Sebagai koor. Acara tentu saja tidak. Saya sendiri tidak punya bayangan bagaimana seminar ini akan terjadi. Apa yang akan dibahas, apa tergetnya, tujuannya, manfaatnya, dan hal detil lain tentang seminar ini. Namun, hal lain yang menjadi pemikiran saya adalah, munculnya ide dari kepala saya sendiri membuat saya mudah untuk mengeksekusi acara ini. Saya bisa lebih bebas membawa acara ini kemanapun saya mau sesuai ide awal yang saya utarakan.
Ketika persiapan acara mulai berjalan saya menyadari akan satu hal. Saya belum pernah mengikuti seminar apapun! Panik? Iya. Walaupun konsep sudah matang dalam otak saya, banyak hal-hal sepele dan kecil yang terlewatkan. Saya tidak punya bayangan lengkap dan detil seminar yang akan berlangsung. Akhirnya, saya mencari jawaban itu sendiri. Saya bertanya kepada orang-orang yang pernah terlibat dalam seminar, baik peserta maupun pantia, saya mencari di dunia maya, dan saya menggali sendiri ketika saya berdiskusi dengan pembicara. Sedikit demi sedikit saya memiliki gambaran apa yang harus saya lakukan dan bagaimana acara akan berlangsung. Dengan bantuan tim acara, saya paham bagaimana eksekusi yang harus saya lakukan.
Tema cinta mungkin tema yang mudah dibawa, santai, asik. Siapapun yang disuruh mendengarkan apalagi remaja tentulah semangat mendengarkan. Namun, bagaimana dengan yang membawakan acara? Beban? Sulit? Inilah hambatan dalam mencari pembicara yang tepat dalam seminar ini. Mencari pembicara yang mau dan mampu menyampaikan maksud dari tema ini dengan benar bukanlah hal yang mudah. Meyakinkan mereka untuk mau dan mengisi acara ini menjadi tantangan dan pengalaman tersendiri bagi saya. Sempat ditolak oleh pembicara membuat saya semakin semangat ketika bertemu dengan pembicara. Ya, walau sempat ditolak saya tetap berusaha meyakinkan pembicara untuk mau menjadi pembicara dalam seminar ini. Dan akhirnya, saya berhasil.
Hari H tiba. Walaupun peserta yang datang hanya mencapai 75% dari target yang direncanakan karena publikasi kurang meluas, mereka cukup antusias. Sebagian peserta bahkan meminta agar waktunya diperpanjang dan diadakan lagi seminar seperti ini. Mereka menikmati seminar dan merasa mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam seminar ini.
Palapsi selalu mengajarkan proses (pre-during-post), dan dibalik proses yang baik pastilah ada hasil yang baik. Inilah yang saya rasakan ketika acara ini berakhir. Respon dan antusias peserta menjadi bukti seminar ini berhasil dan sukses. Proses yang yang dijalani PO, sekretaris, bendahara, acara, pubdok, sponshorship, perkap, konsumsi dengan baik membawa kepuasan tersendiri bagi masing-masing individu. Sebagai orang yang memulai acara ini dari nol saya semakin percaya, daripada memikirkan hasil yang akan kita raih, kenapa tidak berusaha menjalani proses dengan baik saja, hasil yang akan dicapai pasti akan mengikuti proses yang kamu jalani. NGU!

Comments

Popular posts from this blog

Love Myself

Terkadang seorang manusia harus berhenti sejenak di sela-sela harinya, dan bertanya, "Sudah sejauh apa aku mencintai diriku sendiri?". Dua minggu kemarin adalah dua minggu tanpa jeda

Dua Puluh Tiga

September ini, wanita berambut panjang itu genap berusia dua-puluh-tiga tahun. Cukup dekat dengan seperempat abad.  Dua puluh tiga tahun hidup banyak hal yang wanita itu jalani. Naik turun. Kadang di atas, kadang atas banget, kadang di bawah, kadang nyungsep bawah banget. Yah suka suka kehidupan mau bawa dia kemana. Saat ini wanita itu sudah lulus kuliah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada kebingungan yang ia hadapi, akan kemana ia melangkah? Tidak, wanita ini tidak kehabisan mimpi. Justru sejak kecil ia hidup karena mimpinya. Ia hanya bingung bagaimana cara ia memulai mimpinya. Rasanya ia seperti mendapat firasat usia ini adalah titik balik kehidupannya. Wanita itu kemudian mengingat dua puluh tiga tahun kehidupannya. Mengingat bagaimana ia akhirnya lulus setelah bersusah payah menyelesaikan tugas akhir, karena sungguh ia adalah manusia perfeksionis yang menyulitkan diri sendiri. Bagaimana ia bisa begitu bebas keluas masuk goa, padahal ia takut ketinggian, dan bukan s...

Negeri Dongeng

Di negeri dongeng, akhir manis selalu dicintai. Padahal sebenar-benarnya negeri dongeng terkadang perlu akhir yang pahit. Karena tidak asik merasakan manis dari sebuah gula yang memang sudah manis. Seperti kopi yang pahit tapi asik kalau diminum, seperti itulah hidup. Asik ketika kamu bisa merasakan rasa tersembunyi dari pahitnya kopimu.  Pahit manis hanya rasa yang dipersepsikan oleh otakku, otakmu, otak dia secara berbeda. Bagiku sayur ini asin, bagimu tidak, bagi dia sudah pas. Maka rasa hidupmu otak mu sendiri yang menentukan. Kamu bahagia atau tidak itu keputusan otakmu. Bahkan di negeri dongeng sekalipun.