“Hidup itu pilihan”, ujar segelintir manusia. Mau tidak mau, setiap hari manusia dipaksa untuk membuat pilihan. Memilih beranjak dari kasur atau kembali menarik selimut. Memilih melangkahkan kaki dengan perut kosong atau sejenak menjejalkan sesuatu ke mulutnya. Memilih menyantap hangatnya nasi, manisnya susu, atau gurihnya sehelai roti gandum. Hingga akhirnya manusia itu memilih menyelesaikan pekerjaannya sampai pagi, menikmati waktu malam, atau memberi kesempatan tubuhnya untuk mengisi tenaga.
Beberapa pilihan dipilih dengan sederhana dan tanpa pikir panjang. Sebagian lagi dipilih dengan waktu dan pikiran yang sangat panjang. Pilihan yang akan merubah hidup manusia itu di masa depan.
Permasalahannya apapun pilihan seorang manusia, mau tidak mau, ia sendiri yang menanggung akibatnya. Bagaimana pilihan itu akan berakibat untuknya, baik, buruk, bagus, jelek, untung, rugi. Permasalahannya adalah semua manusia tidak tahu apakah pilihan yang ia buat akan membawa ia kemana. Bila tahu, tentu semua manusia akan mengalami kebaikan, mendapat nasib baik, dan sebuah keberuntungan bukan?
Sebagian besar manusia berujar tidak akan menyesal dengan pilihannya. Tetapi hanya beberapa yang tidak menyesal. Beberapa manusia lain berandai-andai tidak memilih pilihan yang ia pilih. Berandai-andai sedetik saja ia memutar waktu dan membuat pilihan lain.
Segelintir manusia lain menerima pilihan yang ia buat. Seburuk dan sebagus apapun pilihan mereka. Bahkan jika mereka diberi kesempatan untuk kembali membuat pilihan, mereka tetap akan membuat pilihan itu.
Lalu, menyesal-kah kamu dengan pilihanmu?
Comments
Post a Comment